Sabtu, 24 November 2012

Alarm Maut II

Mengalirlah kau
Linangi topeng putih berbalut noda
Sebelum lusa kau tak punya jalan
Lantaran mata tertutup untuk selamanya

Jumat, 23 November 2012

Yang Tak Tertulis

Termasuk tentangmu, kelak
Jemariku berhenti menulis
Kemudian saat ini
Dalam baris ini
Kutulis apa yang tak perlu tertulis

Rindu

Hujan menggenapkan rindu
Membawanya mengalir
Umpama bahasa si penyair

Memaksa Berpikir

Pikiranku berpikir, kau mulai berpikir.
Akankah kau berpikir seperti yang ku pikir?

Ku pikir
Aku tak mahir soal berpikir,
karena aku bukan seorang pemikir.
Takutnya salah tafsir.

Tapi pikiranku tetap berpikir
untuk kemudian temukan pola pikir dalam pikiranmu, pikirku.

Setelah dipikir-pikir,
untuk apa aku memikirkan hal
yang tak perlu dipikirkan.

Tapi, pikiranku masih saja dipenuhi
oleh pikiran-pikiran tetang pikiranmu
yang belum berhasil juga ku tafsir.

Nanti lah saya pikir-pikir lagi!

Alarm Maut

Sepertinya jendela itu mengatakan sesuatu.
Ya, aku mendengarnya.
"Suatu saat, tanganmu takkan membukakan aku lagi. Seperti kala pagi ini."

Kamis, 22 November 2012

Bukan Untukku

takdir, ialah diriku.
sementara memiliki senyumku, ialah takdirmu.
tapi memilikimu, bukanlah diriku.

Senin, 19 November 2012

Kerap Meminta

Warna gaun yang ia kenakan
tak serupa dengan cucuran air mata yang kekal dalam abad.
Air kesejukan, jatuhlah
mengguyur sahara, kerap meminta.
Sebab ia ladang yang haus, tandus.